Home Terbaru Jepang Siapkan Sanksi Berat untuk Para Pelaku Cyber Bullying

Jepang Siapkan Sanksi Berat untuk Para Pelaku Cyber Bullying

Video Terkini IDNtron.com-June 24, 2022 1:03 am

JawaPos.com – Masalah etika dan juga serta sopan santun di dunia maya nyatanya nggak cuma menjadi masalah di di dalam negeri saja. Di negara sebesar dan juga serta semaju Jepang, kemajuan ekosistem digital, internet dan juga serta media sosial (medsos) rupanya serta bikin pusing pemerintah. Masalahnya sama, kurangnya kesadaran bahwa medsos mesti menjadi tempat yg aman dan juga serta nyaman bagi siapapun.

Mengatasi masalah tersebut, khususnya cyber bullying atau perundungan di dunia maya, parlemen Jepang menyetujui hendak adanya hukuman pidana pencemaran nama bagus sampai satu Tahun penjara bagi pengguna internet yg melakukan bully di medsos. Hal ini menyusul bunuh diri seorang bintang televisi reality show muda di Jepang yg memicu perdebatan nasional tentang perundungan siber.

Baca Juga :  6 Camilan dengan Kolesterol Tinggi, Hati-hati Jajan Gorengan

Negara tersebut memutuskan untuk memperkuat undang-undang pencemaran nama bagus setelah Hana Kimura mengakhiri hidupnya sendiri pada usia 22 Tahun pada Tahun 2020 lalu.

Kimura, seorang pegulat profesional, menjadi sasaran hinaan setiap hari di media sosial setelah Ia muncul di reality show Jepang yg sangat populer Terrace House, yg membawa tema tiga pria dan juga serta tiga wanita yg tinggal dengan sementara di sebuah rumah dengan di Tokyo.

Dia menerima pesan kebencian setelah penampilannya dikritik di salah satu episode. Tepat sebelum bunuh diri pada Mei 2020, Ia men-tweet tentang ratusan pesan keji setiap hari yg menyakitinya.

Pada akhirnya, dua orang dihukum karena mencemarkan nama bagus Kimura, tetapi cuma didenda sebesar JPY 9.000 atau setara dengan Rp 1 jutaan saja. Denda yg jelas sangat rendah dan juga serta dianggap tidak sebanding dengan hilangnya nyawa seseorang.

Baca Juga :  [IDNtron-Terbaru]-Upacara HUT ke-495 Kota Jakarta - 22 Juni 2022

sangat banyak orang melontarkan kemarahannya kepada otoritas terkait dan juga serta menilai hukumannya terlalu ringan. Kematiannya memicu perdebatan sengit tentang intimidasi anonim dan juga serta tingkat perlindungan kebebasan berbicara di Jepang.

Penentang perubahan berpendapat undang-undang itu hendak berdampak pada kebebasan berbicara dan juga serta menggagalkan kritik terhadap mereka yg berkuasa. Pendukung mengatakan undang-undang yg lebih keras diperlukan untuk menindak cyber bullying dan juga serta pelecehan online.

Setelah kematian Kimura, Undang-undang yg diamandemen kemudian menambahkan hukuman penjara satu Tahun dengan opsi kerja paksa dan juga serta menambah denda sampai JPY 300 ribu atau setara dengan Rp 32,9 jutaan. Hukuman baru ini serta hendak segera berlaku.

Namun demikian, berpotensi menjadi pasal karet, tak sedikit serta yg mengkritik aturan baru ini. Karena kontroversi, Undang-undang baru disahkan setelah disetujui untuk ditinjau dari pakar luar setiap tiga Tahun. Pengacara kriminal Jepang Seiho Cho memperingatkan bahwa undang-undang tersebut tidak jelas mengenai apa yg merupakan penghinaan.

Baca Juga :  Bus Shalawat Memudahkan Jemaah Haji Beribadah di Masjidil Haram

“penting terdapat pedoman yg membedakan apa yg memenuhi syarat sebagaimana penghinaan. Misalnya, saat ini, bahkan Apabila seseorang menyebut pemimpin Jepang idiot, maka mungkin di bawah undang-undang yg direvisi itu dapat digolongkan sebagaimana penghinaan,” kata Cho kepada CNN.

Pada konferensi pers setelah parlemen mengumumkan keputusannya, ibunda Kimura yaitu Kyoko Kimura mengatakan kepada wartawan bahwa Ia berharap amandemen itu hendak mengarah pada undang-undang yg lebih komprehensif.

“Saya ingin orang tahu bahwa cyber bullying ialah kejahatan,” katanya, menurut CNN.

Sumber Referensi & Artikel : Berbagai Sumber
Saksikan video pilihan berikut ini: